27 Februari 2010

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (MUGA – Scan)

1. PENGERTIAN
Disebut juga Sintigrafi Jantung Dinamik atau Hot Spot Technique atau Ventricular Function Study atau Pemeriksaan Fungsi Ventrikel adalah salah satu jenis pemeriksaan kedokteran nuklir pada organ jantung yang berfungsi untuk mengamati tingkat efisiensi pompa jantung.

2. INDIKASI
• Evaluasi sebelum dan sesudah pengobatan kemoterapi.
• Evaluasi myocarditis dan kardiomyopathy.
• Menghindari resiko pembedahan.
• Evailuasi sebelum transplantasi jantung.

3. RADIOFARMAKA
Tc-99m Pyrophosphate dengan dosis 15 mCi disuntikkan secara bolus intravena.

4. PERALATAN
• SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography).
• PECT (Positron Emission Computed Tomography).

5. PERSIAPAN PASIEN
 Tidak ada persiapan khusus.
 Inform Concent / Lembar persetujuan tindakan.

6. PROSEDUR PEMERIKSAAN
• Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
• Radiofarmaka disuntikkan secara bolus intravena pada vena mediana cubiti
• Tangan pasien diposisikan di atas kepala pasien.
• Pengambilan gambar dilakukan segera setelah penyuntikan untuk menilai presentasi cardiac output, pergerakan dinding otot, dan coronary ansifficiensi.
• Lama pemeriksaan ± 20 – 30 menit.
• Selama pemeriksaan pasien dianjurkan untuk tidak melakukan pergerakan.

7. EVALUASI HASIL MUGA – SCAN
NORMAL
Tidak ditemukan distribusi (penyimpangan) radiofarmaka dalam jantung.

ABNORMAL
Hot Spot Imaging, pergerakan dinding yang lambat, miskin cardiac output

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Myocardial Perfusion/Sidik Jantung Statik)

1. PENGERTIAN
Disebut juga pemeriksaan Perfusi Miokardial atau Sintigrafi Jantung Statik atau Cold Spot Tecnique atau Thallium atau MIBI atau Myoview adalah salah satu jenis pemeriksaan kedokteran nuklir pada organ jantung yang berfungsi untuk mendeteksi aliran darah pada otot – otot jantung.

2. INDIKASI
• Evaluasi penderita dengan keluhan nyeri dada yang disertai gambaran EKG abnormal.
• Untuk penentuan viabilitas yang digunakan sebagai dasar penentuan stratifikasi risiko dan prognosis serta pemilihan terapi yang tepat.
• Untuk seleksi penderita yang memerlukan tindakan revaskularisasi, baik dengan cara operasi atau angioplasti.

3. PERALATAN
• SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography).
• PECT (Positron Emission Computed Tomography).

4. RADIOFARMAKA
a. Thallium – 201 Chloride (Tl–201 Chloride) dengan dosis 2 – 3 mCi.
b. Tc-99m MIBI atau Tetrofosmin dengan dosis 25 mCi

5. PERSIAPAN PASIEN
• Tidak ada persiapan khusus.
• Inform Concent / Lembar persetujuan tindakan.
• Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien disarankan untuk memindahkan perhiasan atau logam lain yang dikenakan karena dapat mempengaruhi proses pencitraan.
• Penderita dilarang minum teh, kopi atau coklat dari malam sebelum pemeriksaan.

6. PROSEDUR PEMERIKSAAN
• Radiofarmaka disuntikkan secara bolus intravena melalui vena mediana cubiti.
• Setelah radiofarmaka disuntikkan, lalu pasien dianjurkan untuk melakukan latihan (stress/exercise) dengan alat treadmill sampai maksimal dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas kardiovaskuler dan tekanan pada jantung.
• Segera dilakukan pengambilan gambar dalam kondisi stess dengan posisi supine di atas meja pemeriksaan.
• Pengambilan gambar selanjutnya dilakukan 2 – 3 jam untuk menentukan distribusi radiofarmaka pada kondisi non stress (rest).

7. EVALUASI HASIL
Normal
Distribusi radiofarmaka yang normal pada kedua kondisi stress maupun relaksasi (rest).

Abnormal
• Jika pada kedua kondisi mengalami non-perfusi, maka dicurigai infark myocardium.
• Bila ditemukan daerah yang abnormal perfusi pada kondisi stress, sedangkan normal pada kondisi relaksasi maka dicurigai adanya iskemia di bawah stress.

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Thyroid Scintigraphy)

1. PROSEDUR PEMERIKSAAN

a. In Vitro
• Radioimmunoassay (RIA)
• Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu darah pasien 5 cc (dipisahkan antara plasma dan sel darah merah)
• Plasma darah + Larutan I-125 + Kit hormon triodothyronine (T3) dan thyroxine (T4)
• T3 dan T4 yang mengikat I-125 akan mengendap sedangkan yang tidak mengikat akan tetap dalam cairan
• Pisahkan endapan dan cairan
• Hitung aktivitas pada endapan dengan alat “ Well Type Counter “
• Hasil perhitungan dapat menentukan nilai T3 dan T4 dalam darah yang menggambarkan fungsi dari thyroid

b. In Vivo
• Up Take Thyroid
• Thyroid Scintigraphy

2. PEMILIHAN RADIONUKLIDA

I – 131
• Dengan waktu paruh 8,1 hari memungkinkan dapat disimpan.
• Energi gamma 364 keV mudah dideteksi dari luar tubuh.
• Memancarkan sinar beta sehingga dapat digunakan untuk internal radiasi pada hyperthyroidism (graves disease) dan kanker thyroid.

Tc – 99m
• Waktu paruhnya pendek (6,02 jam) sehingga beban radiasi terhadap pasien rendah.
• Energi gamma 140 keV, sangat efisien dideteksi oleh kristal skintilasi ukuran 3/8 – ½ inchi.
• Bentuk molekulnya sama dengan Iodium, sehingga dapat diserap oleh kelenjar thyroid namun mudah dilepas kembali.

I – 123
• Waktu paruhnya 13,3 jam.
• Energi gamma 159 keV.
• Dapat diproduksi melalui cyclotron.
Dari ke–3 radionuklida di atas, Tc-99m merupakan radionuklida yang sekarang banyak dipakai untuk pemeriksaan thyroid, sedangkan pada kasus post thyroidektomi untuk melihat ada tidaknya sisa thyroid masih dipakai I-131

3. INDIKASI
• Evaluasi nodul thyroid
• Evaluasi pembesaran kelenjar thyroid tanpa nodul yang jelas
• Evaluasi jaringan thyroid ektropik atau sisa pasca operasi
• Evaluasi fungsi thyroid

4. RADIOFARMAKA
• NaI– 131 dosis 300 µCi, diberikan per oral
• Tc-99m pertechnetate dengan dosis 2 – 5 mCi, diberikan secara intravena

5. PERALATAN
• Kamera gamma kolimator pinhole atau kolimator LEHR untuk Tc-99m pertechnetate dan energi medium untuk I – 131.
• Pemilihan kolimator tergantung pada energi radiasi gamma utama dari radionuklida yang digunakan.

6. PERSIAPAN PASIEN
• Bila yang digunakan NaI– 131, pasien dipuasakan selama 6 jam.
• Obat – obat dihentikan selama beberapa waktu.



7. PERSIAPAN PEMERIKSAAN
• Siapkan bahan radioaktif 99mTc didalam spuit dengan aktivitas 2 – 5 mCi pemberian dilakukan dengan penyuntikan intravena.
• Pemeriksaan dilakukan 10 - 15 menit setelah pemberian radiofarmaka.
• Pada kasus post thyroidektomi radiofarmaka yang dipakai NaI-131 dengan aktivitas 300 µCi diberikan per oral.
• Pemeriksaan dilakukan 24 jam setelah pemberian radiofarmaka.

8. TATALAKSANA
• Pencitraan dilakukan 10 – 15 menit setelah penyuntikan 99mTc pertechnetate intravena, atau 24 jam setelah minum NaI– 131.
• Pasien tidur terlentang dibawah kamera gamma dengan leher (± 10 cm) dalam keadaan hiperekstensi.
• Pencitraan statik dilakukan pada posisi AP (kalau perlu oblique kiri dan kanan).
• Pada kartilago thyroid dan jugulum diberi tanda marker.

9. PROSES PENGOLAHAN DATA
• Data yang didapat selama pemeriksaan diproses melalui komputer pengolah data.
• Hasil yang didapat berupa gambar thyroid serta perhitungan up take dan dengan bantuan formater difotokan pada film format







10. CATATAN
• Radionuklida yang paling ideal untuk evaluasi kelenjar tiroid adalah NaI-131, karena energinya tidak terlalu tinggi (159 keV) dengan waktu paruh pendek (13,2 jam). Sayangnya Nal-131 saat ini belum ada di Indonesia.
• Obat-obat tertentu, terutama yang mengandung iodium dan hormon tiroid akan mengganggu.

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Bone Scintigraphy /Sidik Tulang)

1. DEFINISI
Prosedur pemeriksaan yang menggunakan bahan radioaktif untuk memperlihatkan dan mengidentifikasi abnormalitas yang terjadi pada tulang – tulang didalam tubuh.

2. INDIKASI
• Metastasis pada tulang
• Tumor tulang primer
• Osteomielitis
• Nekrosis Aseptik
• Trauma
• Kelainan sendi
• Penyakit metabolik pada tulang

3. RADIOFARMAKA
Tc-99m MDP (Methylenediphosphonate) dengan dosis 15 – 20 mCi

4. PERSIAPAN ALAT
• Kamera gamma planar dilengkapi data prosessor dengan kolimator LEHR
• Puncak energi: 140 KeV
• Window width : 20%

5. PERSIAPAN PASIEN
1) Tidak diperlukan persiapan khusus.
2) Beritahu dokter atau petugas, jika :
a. Sedang hamil atau menyusui
b. Beberapa hari sebelumnya telah melakukan pemeriksaan yang mengandung barium (misalnya barium enema) atau sedang mengkonsumsi obat yang mengandung bismuth (misalnya pepto-bismuth) karena kedua zat tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan.
3) Kurangi konsumsi cairan 4 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, karena pasien akan diminta mengkonsumsi banyak cairan setelah perunut radioaktif disuntikkan.
4) Setelah perunut disuntikkan, pasien harus menunggu 1 – 3 jam sebelum bone scan dilakukan. Oleh karena itu pasien diperbolehkan membawa buku, majalah atau barang lainnya untuk memanfaatkan waktu pada saat menunggu pengambilan gambar.
5) Sebelum pemeriksaan dilakukan, lepaskan perhiasan atau benda logam lainnya yang dikenakan pasien dan yang kita kenakan, karena dapat menggangu pencitraan.

6. PROSEDUR PEMERIKSAAN
Pencitraan pada bone scintigrafi ini menggunakan metode 3 fase yaitu :

1. Fase Pertama (Vaskular)
a. Penderita tidur terlentang dengan detektor ditempatkan sedemikian rupa sehingga tubuh yang akan diperiksa berada diatas lapang pandang detektor.
b. Pemeriksaan fase pertama merupakan pemeriksaan dinamik dalam frame berukuran matrix 128 x 128 dengan waktu pencacahan 3 detik/frame selama 2 menit.
c. Posisi pencitraan adalah anterior dan atau posterior
d. Pencitraan dimulai bersamaan dengan saat penyuntikkan radiofarmaka secara bolus.

2. Fase Kedua (Blood Pool)
a. Pemeriksaan fase kedua dilaksanakan segera setelah fase pertama selesai berupa pencitraan statik dalam frame berukuran matrix 256 x 256 sebanyak 700 Kcount
b. Posisi pencitraan adalah anterior dan atau posterior

3. Fase Ketiga
a. Fase ketiga merupakan pemeriksaan statik yang dilakukan 3 jam pasca penyuntikan radiofarmaka.
b. Sebelum memasuki ruang pemeriksaan penderita dianjurkan buang air kecil dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi.
c. Pada pemeriksaan fase ketiga ini dilakukan pemeriksaan seluruh tubuh (whole body scan).
d. Posisi pencitraan adalah anterior dan Posterior dilanjutkan dengan pemeriksaan spot pada bagian-bagian yang mencurigakan.
e. Apabila diperlukan pemeriksaan dapat dilakukan pemeriksaan dengan posisi miring (oblique) untuk memperjelas lokasi kelainan.
f. Pemeriksaan dalam frame berukuran matrix 256 x 256 sebanyak 700 Kcounts.

7. EVALUASI HASIL
• Daerah tulang yang menyerap sedikit perunut atau bahkan tidak menyerap sama sekali disebut “Cold Spot”, yang menggambarkan bahwa suplai darah ke tulang tersebut kurang (infarksi tulang) atau memperlihatkan adanya kanker
• Daerah yang menyerap perunut banyak atau terlihat terang disebut “Hot Spot”, yang menggambarkan terjadinya tumor, fraktur, atau infeksi



21 Februari 2010

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Renografi Pediatrik)

1. PENGERTIAN
Modifikasi dari renografi konvensional yang dapat membantu para klinisi dalam menegakkan diagnosa yang yang dilakukan pada anak-anak.

2. INDIKASI
Mendiagnosa awal dari follow up dari penyakit genitor-urinary pada anak-anak seperi infeksi saluran kemih (ISK), hidronephrosis neonatal, dan reflux vesikoureteral.

3. KONTRA INDIKASI
• Parameter fungsi ginjal seperti GFR dan aliran plasma ginjalnya rendah.
• Perkembangan tubulus ginjal kurang sempurna dibanding dengan glomerulus.

4. RADIOFARMAKA
Tc– 99m MAG3 pada usia 2-4 minggu setelah lahir. Dosis yang digunakan menggunakan parameter skala atau tergantung pada berat badan bayi dan luas permukaan tubuh.

5. PERSIAPAN ALAT
 Kamera gamma dengan kolimator jenis general – purpose atau high sensitivity
 Matriks 64 x 64 pixels
 Akusisi frame 10 – 20 detik
 Lama pemeriksaan 30 – 40 menit
6. PERSIAPAN PASIEN
• Menjaga status hidrasi pasien selama pemeriksaan.
• Penderita diberikan volume cairan sesuai dengan berat badan.
• Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan renogram bersamaan dengan pemeriksaan IVP.
• Penderita harus mengosongkan vesika urinaria sebelum pemeriksaan.
• Pasien telah dipasang kateter sebelum dilakukan renografi.
• Pada pemakaian radiofarmaka I-131 Hippuran, penderita sebelumnya diberikan larutan lugol 10 tetes untuk memblok jaringan tiroid agar tidak menangkap I-131.

7. PROSEDUR PEMEERIKSAAN
1) Pasien supine atau tidur terlentang dengan kamera gamma berada di posterior atau punggung pasien.
2) Duduk atau setengah duduk agar lebih fisiologis.
3) Radiofarmaka disuntikkan pada vena mediana kubiti secara bolus.
4) Deteksi ditempatkan sedemikian rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada dalam lapang pandang pencitraan.

8. PEMROSESAN DATA
Seluruh data kasar digabung, kemudian dibuat ROI pada kedua ginjal serta di bawah kedua ginjal untuk substraksi latar belakang untuk membuat kurva waktu-aktivitas.

9. FASE PENILAIAN KURVA NORMAL
1) Fase Initial
• Terjadi peningkatan secara cepat segera setelah penyuntikan radiofarmaka yang menunjukkan kecepatan injeksi dan aliran darah vaskular ke dalam ginjal.
• Menunjukkan teknik penyuntikan radiofarmaka, apakah bolus atau tidak.
• Terjadi kurang dari 2 menit.

2) Fase Sekresi
• Menunjukkan kenaikan yang lebih lamban dan meningkat secara bertahap
• Fase ini berkaitan dengan proses penangkapan radiofarmaka oleh dan di dalam ginjal melalui proses difusi lewat sel-sel tubuli ke dalam lumen tubulus
• Dalam keadaan normal fase ini mencapai puncak dalam waktu 2 – 5 menit

3) Fase Ekskresi
• Tampak kurva menurun dengan cepat setelah mencapai puncak kurva yang menunjukkan keseimbangan antara radioaktivitas yang masuk dan meninggalkan ginjal.
• Menggambarkan pola urodinamik dari ginjal dan pola eliminasi melalui sistem pelvikalises menuju ke ureter dan vesika urinaria, sehingga fase ini sangat sensitif untuk kelainan pada saluran kemih.

Trnslate by

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google