23 Mei 2010

Teknik Radiografi Discography

PENGERTIAN
Discography adalah pemeriksaan radiografi dari diskus intervertebralis dengan bantuan sinar-x dan bahan media kontras positif yang diinjeksikan kedalam pertengahan diskus dengan cara memasukkan jarum ganda untuk menegakkan diagnosa.
Pemeriksaan discography pertama kali diperkenalkan oleh seorang Radiolog asal Swedia yaitu K. Lindblom pada tahun 1948 dan dikembangkan oleh Doward dan Butt. Pemeriksaan ini digunakan untuk memperlihatkan herniasi discus atau degenerasi yang biasanya terjadi pada daerah lumbo-sacral dan terkadang terjadi di daerah cervical. Discography dapat dilakukan terpisah atau bersama-sama dengan myelography.

ANATOMI DAN FISIOLOGI
Discus adalah ruang persendian yang dibentuk antara dua vertebrae yang dikuatkan oleh ligamentum yang berjalan di depan dan di belakang corpus vertebrae sepanjang columna vertebralis. Discus pada masing-masing corpus berbentuk pendek silindris.



Banyak lamella vertikal pada daerah discus yang berbentuk spons, sehingga memungkinkan untuk menahan goncangan. Bagian luarnya dilingkupi tulang keras yang tipis. Discus terdiri dari :
1.Lingkaran fibrus cartilago, merupakan lapisan cartilago yang menutupi permukaan atas dan bawah dari setiap body vertebrae.
2.Annulus fibrosus, merupakan lapisan jaringan fibrus dan cartilago yang membentuk bantalan diantara lingkaran cartilago.
3.Nucleus pulposus ;yaitu pusat dari annulus fibrosus.



Gambar anatomi Discus. Gambar tersebut dibuat dengan potongan sagital. (1) Annulus Fibrosus, yang menjadi dasar lingkaran fibrosus. (2) Nucleus Pulposus, yang menjadi pusat dari discus dan merupakan target dari penyuntikan pada discography. (3) Ligamen Longitudinal Anterior. (4) Ligamen Longitudinal Posterior. (5) Canalis Vertebralis
Pada keadaan normal, discus berfungsi sebagai penahan goncangan dan memberikan keseimbangan pada columna vertebralis pada saat tubuh dalam keadaan tegak. Sendi yang terbentuk antara discus dan vertebrae adalah persendian dengan gerakan yang terbatas saja dan termasuk sendi jenis simphisis, yaitu sebuah persendian yang hanya dapat bergerak sedikit, tetapi jumlahnya yang banyak memberi kemungkinan membengkok kepada columna secara keseluruhan. Selama menjadi bagian yang tidak kaku dari columna vertebralis, maka discus ini akan memberikan flexibilitas dan mempunyai tekanan yang sama, tetapi jika dalam keadaan fleksi , ekstensi atau salah satu sisinya menahan beban maka salah satu sisi discus tersebut akan menambah tekanan sesuai dengan besar tekanan tersebut.

INDIKASI
•Ruptur Nukleus Pulposus
•Lesi internal discus, yang tidak dapat dilihat pada pemeriksaan myelografi.
•Hernia Nucleus Pulposus (HNP)
•Penyempitan saluran spinal canal.

KONTRA INDIKASI
•Alergi terhadap bahan kontras.
•Pendarahan
•Multiple sclerosis

PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

Steril
•Needle dengan ukuran 20 dan 25
•Spuit 10 ml dan 2 ml
•Drawing-up canule
•Gallipot
•Kain kassa
•Kapas
•Media kontras yang digunakan 0,5 cc – 2 cc Angiografin atau Conray 280 atau garam meglumine dari iothalamate atau diatrizoate 0,5 cc – 2 cc.

Unsteril
•Pesawat sinar-x dan fluroskopi
•Kaset dan film
•Grid/lysolm
•Marker
•Gonad shield
•Apron
•Botol obat antiseptik hibitane 0,5 %
•Botol anastesi lokal lignocaine 1 %
•Ampul media kontras
•Jarum disposable
•Peralatan dan obat-obat emergensi

PERSIAPAN PASIEN
Jika pasien wanita, tanyakan apakah pasien hamil.
Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan sebelumnya.
Tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat asma.
Penandatanganan informed consent.
Melepaskan benda-benda logam pada daerah yang akan diperiksa.
Pasien puasa selama 5 jam sebelum pemeriksaan.
Pasien diberi penjelasan tentang prosedur pemeriksaan.
Dibuat plain foto posisi AP dan lateral pada daerah yang akan diperiksa.
Premedikasi : diberikan obat sedatif, yaitu kombinasi dari 10 mg Drop ridol & 0,15 mg phenoperidin (Park, 1973).

METODE PENYUNTIKKAN

Pada pemeriksaan discography, ada dua cara dalam penyuntikan media kontras yaitu :

1.Dengan 1 jarum (Standard Spinal Puncture Needle).

2.Dengan 2 jarum (The Double Needle Combination).
Double jarum terdiri dari :
•Jarum ukuran 20, yang akan digunakan untuk menyuntik spinal dan mencapai annulus fibrosus.
•Jarum ukuran 25 (lebih panjang dari jarum ke-1),yang akan digunakan sebagai jarum penunjuk untuk menembus celah sampai menemukan pusat dari nucleus pulposus.

Jarum yang digunakan untuk daerah cervical biasanya digunakan dengan panjang 2 - 2,5 inchi, sedangkan untuk daerah lumbal 3,5 - 5 inchi. Penyuntikan dilakukan di bawah kontrol fluoroskopi. Kombinasi dengan jarum double lebih baik daripada dengan satu jarum.

PROSEDUR PEMERIKSAAN
1.Pasien diposisikan lateral decubitus, dengan punggungnya dilengkungkan serta lutut difleksikan.Bantalan busa hendaknya ditempatkan di suatu tempat yang dianggap perlu agar tulang belakang itu menjadi paralel dengan meja pemeriksaan.



2.Daerah yang akan dipunksi diberikan antiseptik.
3.Kemudian dengan kontrol fluoroskopi, jarum dengan ukuran 20 ditusukkan diantara ruas spinosus dan langsung ketulang cincin dari discus yang akan diperiksa dan ujung jarum menembus annulus fibrosus.
4.Kemudian masukkan jarum kedua,ke dlm jarum ke satu (jarum kedua lbh pjg daripada jarum pertama),shg jarum tsbt terletak dlm nucleus pulposus.



5.Kemudian dilakukan penyuntikan kontras media.
6.Lalu dibuat proyeksi lateral dengan jarum tetap berada di dalamnya. Bila media kontras sudah cukup, jarum dicabut dan daerah penyuntikan ditutup.
7.Kemudian pasien diposisikan supine, paha difleksi secukupnya agar bagian belakang tubuh menempel meja pemeriksaan.
8.Kemudian dibuat posisi AP dengan 100 – 200 cranial
9.Jika dibutuhkan maka dibuat foto oblique.

KOMPLIKASI
•Rasa pegal pada daerah punksi
•Retro peritenal haemorahage
•Disc herniation

PERAWATAN PASIEN
•Bed rest selama 24 jam.
•Periksa tekanan darah dan pernapasan setiap 30 menit selama 4 jam pertama dan setiap 4 jam selama 24 jam.

Teknik Radiografi Histerosalpingografi (HSG)

PENGERTIAN
Histerosalpingografi adalah pemeriksaan radiografi pada uterus dan saluran-salurannya dengan menginjeksikkan media kontras positif kedalam vagina dengan bantuan sinar-x.

INDIKASI
Infertilitas disebabkan karena malformation vagina, malformation tuba, endokrinal problem, malformation uterus, atau malformation ovarium. Infertilitas ada dua yaitu :
•Infertilitas Primer
•Infertilitas Sekunder

•Neoplasma
•Salfingitis
•Hydrosalphinx

KONTRA INDIKASI
•Alergi terhadap media kontras
•Menstruasi
•Pendarahan pada vagina
•Proses-proses inflamasi yang akut pada abdomen
•Dilatasi kanalis servisis
•Penyakit ginjal dan jantung yang sudah lanjut

KOMPLIKASI
•Rasa nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan
•Timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien sensitif terhadap kontras

FASE MENSTRUATION

1.Fase Menstruasi
Pada fase menstruasi korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari dan kemudian mulai beregresi. Pada fase menstruasi terjadi penurunan yang tajam dari progesterone dan estrogen sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium.

2.Fase Folikular
Pada fase folikular Folikel Stimulating Hormon (FSH) merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium. Umumnya hanya satu yang terus berkembang dan menjadi folikel de-Graaf dan yang lainnya berdegenerasi.

3.Fase Proliferasi
Pada fase proliferasi endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium istirahat. Fase proliferasi berlangsung kira-kira 5 hari. Kelenjar-kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain hingga berbelok.

4.Fase Sekresi
Fase sekresi endometrium menebal dan menjadi seperti beledu. Kelenjer menjadi lebih besar dan berkelok-kelok, dan epitel kelenjar menjadi berlipat-lipat. Lamanya fase sekresi sama pada setiap wanita yaitu ± 2 hari.

P

PERSIAPAN PASIEN
•Tanyakan bagaimana siklus menstruasi pasien.
•Beritahu pasien untuk tidak melakukan hubungan badan sebelum melakukan pemeriksaan.
•Pasien buang air kecil untuk mengkosongkan blass.
•Melepaskan benda-benda logam yang dapat menggangu gambaran pada daerah yang akan diperiksa.
•Penandatanganan Informed Consent.

Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG) ada dua yaitu HSG Set dan HSG Kateter

1.HSG Set
PERSIAPAN ALAT

Steril
•Speculum
•Portubator
•Portio tang
•Uterus sonde
•Conus
•Spuit
•Cutton
•Steril duk
•Aquadest /NaCl

Non Steril
•Pesawat sinar-x
•Keranjang sampah
•Kaset dan film 24 x 30
•Grid/lysolm
•Marker

Media kontras
•Iodium water-soluble lebih baik dari oil soluble (yoder).
•Media kontras positif berisi :
a.Meglumine Diatrizoate
b.Sodium Diatrizoate
Contoh : Urografin 60%

WAKTU PEMERIKSAAN
Waktu yang optimum untuk melakukan HSG ialah pada hari ke 9 -10 sesudah haid muIai. Pada saat itu biasanya haid sudah berhenti dan selaput lendir uterus sifatnya tenang. Bilamana masih ada pendarahan, dengan sendirinya HSG tak boleh dilakukan karena ada kemungkinan masuknya kontras ke dalam pembuluh darah balik.

PROYEKSI PEMERIKSAAN HSG SET

1.AP Plain (Uterine cavity)
Posisi Pasien
Supine

Posisi Obyek
•MSP pada pertengahan kaset.
•Tangan berada di samping tubuh.
•Tidak ada rotasi pada pelvis.



Central Ray
Vertikal/tegak lurus terhadapa kaset.

Central Point
5 cm proximal simpisis pubis

FFD
100 cm
Ekspose : Tahan nafas pada saat pasien ekspirasi.
NB : Pemasangan kaset dengan posisi portrait



2.AP Post Kontras : 5 cc




Keterangan:
1.Uterine tube
2.Normal contras
3.Body of uterus
4.Speculum

3.AP Oblique (RPO dan LPO) Post Kontras : 3-5 cc



4.AP Post Miksi/Post Void

STRUKTUR YANG TAMPAK
•Daerah 5 cm di atas simphisis pubis harus berada pada pertengahan kaset.
•Semua media kontras harus termasuk juga beberapa daerah “spill”.
•Gambar radiograf harus menunjukkan sedikit skala kontras.

KRITERIA RADIOGRAF PEMERIKSAAN HSG SET
•Bentuk dari uterus yang normal berbentuk segitiga, bagian dasarnya pada fundus dan apex pada sisi inferior, berhubungan dengan canalis cervikalis (Sugiharto, 2006).
•Tidak ada gambaran kelainan seperti tumor, polip, atau bentuk abnormal dari uterus (Sugiharto, 2006).
•Tuba fallopi terletak di kanan kiri uterus. Terbagi atas empat daerah yaitu: interstitial, isthmus, ampulla dan infundibulum. Daerah yang terlihat jelas dengan kontras adalah isthmus yang panjang dan lurus serta ampulla yang seperti huruf “s” dan tampak melebar. Tuba fallopi tidak tersumbat, sehingga media kontras dapat mengisi tuba hingga tumpah ke rongga peritoneal (tampak spil) (Yoder, 1988).
•Terdapat gambaran spekulum maupun partubator di rongga uterus pada metode pemasukan media kontras dengan metal canula (Yoder, 1988).

2.HSG Kateter
PERSIAPAN ALAT

Steril
•Kateter dengan ukuran 8 dan 10
•Korentang
•Spekulum
•Long forcep
•Colby adaptor
•Extention tube
•Balon kateter
•2 way stopcock
•Media kontras
•Spuit 20 cc dan 3 cc
•Duk dan handscoen
•Kassa steril
•Obat antiseptic
•Larutan desinfektan (alcohol, betadine)
•Bengkok
•Mangkuk

Non Steril
•Pesawat sinar-x
•Keranjang sampah
•Kaset dan film 24 x 30
•Grid/lysolm
•Marker

Media kontras
•Iodium water-soluble lebih baik dari oil soluble (yoder).
•Media kontras positif berisi :
a.Meglumine Diatrizoate
b.Sodium Diatrizoate
Contoh : Urografin 60%

PROSEDUR PEMASUKKAN MEDIA KONTRAS

•Setelah pasien diposisikan lithotomi, daerah vagina dibersihkan dengan desinfektan. Diberikan juga obat antiseptic pada daerah cervix.



•Speculum digunakan untuk membuka vagina dan memudahkan cateter masuk. Bagian dalam vagina dibersihkan dengan betadine, kemudian sonde uteri dimasukan untuk mengukur kedalaman serta arah uteri.
•Spuit yang telah terisi media kontras dipasang pada salah satu ujung kateter. Sebelumnya kateter diisi terlebih dahulu dengan media kontras sampai lumen kateter penuh.
•Dengan bantuan long forceps, kateter dimasukan perlahan ke ostium uteri externa.
•Balon kateter diisi dengan air steril kira-kira 3 ml sampai balon mengembang diantara ostium interna dan ostium externa. Balon ini harus terkait erat pada canalis servicalis, kemudian speculum dilepas.



•Pasien diposisikan di tengah meja pemeriksaan, dan mulai disuntikan media kontras jumlahnya sekitar 5 ml atau lebih.
•Media kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii, atur proyeksi yang akan dilakukan serta ambil spot film radiografnya.
•Balon dikempiskan dan cateter dapat ditarik secara perlahan.
•Daerah vagina dibersihkan.

PROYEKSI PEMERIKSAAN HSG Kateter
1.AP Plain
2.AP Post Kontras
3.AP Oblique Post Kontras (RPO dan LPO)
4.AP Post Miksi



Keterangan:
1. Tumpahan Spill
2. Uterus
3. Kateter

KRITERIA RADIOGRAF PEMERIKSAAN HSG KATETER
•Bentuk dari uterus yang normal berbentuk segitiga, bagian dasarnya pada fundus dan apex pada sisi inferior, berhubungan dengan canalis cervikalis (Sugiharto, 2006).
•Tidak ada gambaran kelainan seperti tumor, polip, atau bentuk abnormal dari uterus (Sugiharto, 2006).
•Tuba fallopi terletak di kanan kiri uterus. Terbagi atas empat daerah yaitu: interstitial, isthmus, ampulla dan infundibulum. Daerah yang terlihat jelas dengan kontras adalah isthmus yang panjang dan lurus serta ampulla yang seperti huruf “s” dan tampak melebar. Tuba fallopi tidak tersumbat, sehingga media kontras dapat mengisi tuba hingga tumpah ke rongga peritoneal (tampak spil) (Yoder, 1988).
•Tidak ada benda asing seperti IUD (Peter Chen,M.D, 2004).
•Pada radiograf dengan menggunakan Foley Catether Tehnique (FCT), tidak diperoleh gambaran metal artifacts yang dapat menggangu di sekitar rongga uterus (Radiology, 131:542,1979).
•Media kontras yang dimasukan tidak akan bocor atau keluar dari uterus.

Teknik Radiografi Stereoradiografi

PENGERTIAN
Stereo : dimensi pandang
Radio : radiasi sinar-x
Grafi : gambaran
Stereoradiografi adalah suatu teknik radiografi untuk menghasilkan bayangan tiga dimensi dari 2 dua kali eksposi yang menggunakan alat stereoskop untuk melihatnya.

TUJUAN
Dapat digunakan untuk menentukan / mengetahui lokasi, kedalaman dan posisi organ yang tidak bisa ditentukan pada radiograf biasa.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Arah pergeseran tabung tegak lurus thd sumbu organ dominan yang diperiksa.
2. Pembuatan kedua radiograf harus sama dalam hal pengaturan eksposi dan processing film.
3. Identifikasi harus benar menampakkan arah pergeseran tabung dan marker R/L.
4. Bila menggunakan grid, penyudutan tabung sesuai dengan arah grid line.

CARA PENGAMATAN RADIOGRAF STEREORADIOGRAFI
1. Prismatic binocular
2. Stereoscope wheatstone
3. Viewing box / illuminator
Prinsip : Pengambaran kedalaman obyek yang ditunjukkan dengan seluruh gambaran radiografis dari obyek yang sama yang dibuat dengan titik pandang yang berbeda dan dilihat dengan cara khusus.

Syarat
1. Obyek yang difoto harus sama.
2. Dibuat dengan posisi tabung sinar-x yang berbeda.

Metode
1. Metode Translasi (Pergeseran tabung)
Yaitu metode stereoradiografi dimana dalam membuat radiograf dari suatu obyek menggunakan posisi tabung yang berbeda dengan menentukan total pergeseran tabung (TTD).
2. Metode Angulasi (Penyudutan tabung)
3. Kombinasi metode 1 dan 2

KERUGIAN
Stereradiografi memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
• Proses pemeriksaan atau pembuatan radiograf menjadi lebih lama.
• Dosis radiasi menjadi 2 kali lipat.
• Interpretasi lebih sulit.



Keterangan
TTD = Total Pergeseran Tabung (Total Tube Displacement).
IPD = Jarak antara kedua pupil mata pengamat (Interpupilary Distance).
VD = Jarak Pengamatan (Viewing Distance).



Keterangan
A = Titik pusat sinar pada pemotretan biasa (radiograf a)
B = Posisi tabung I pada pemotreta stereoradiografi (radiograf b)
C = Posisi tabung II pada pemotretan stereoradiografi (radiograf c)
Jarak BC =TTD
Jarak AB =AC =1/2 TTD

Teknik Radiografi Makroradiografi

PENGERTIAN
Makroradiografi adalah teknik radiografi yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran awalnya/gambaran yang sebenarnya.

TUJUAN
Untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang tidak diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari bagian – bagian tersebut yang teramat kecil misalnya tulang yang berukuran kecil, saluran- saluran, dan sebagainya.

PRINSIP PEMERIKSAAN
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan cara meletakkan objek pada jarak tertentu dari film.
Teknik makroradiografi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu :
•Mengubah FFD tanpa mengubah OFD
•Mengubah FOD tanpa mengubah FFD

Pembesaran objek yang dihasilkan dapat diukur menggunakan rumus :



Keterangan :
MF = Faktor magnifikasi
FFD = Jarak Dari Sumber ke Film
FOD = Jarak antara Fokus ke Objek

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH

1.Faktor Pembesaran
•Jarak OFD = FOD maka objek terletak diantara 2 focus.
•Pembesaran bertambah bila OFD ditambah atau diperbesar
Pemilihan ukuran focus berkaitan dengan adanya Unsharpness Geometric (Ug). Ukuran focus yang semakin kecil akan memperkecil ketidaktajaman geometri.

2.Faktor Ketidaktajaman Geometri
•Ug berbanding lurus dengan ukuran focus yang digunakan.
•Ug berbanding terbalik dengan FOD.
•Ug berbanding lurus dengan OFD.

3.Faktor Ketidaktajaman Gerakan
•Gunakan peralatan fiksasi untuk mengurangi gerakan pasien.
•Pergerakan pasien dapat menimbulkan Unsharpness Movement (Um).

4.Faktor Eksposi
•Pemilihan faktor eksposi dipengaruhi oleh adanya air gap antara objek dan film.
•Semakin besar air gap maka faktor eksposi yang digunakan akan makin besar.

5.Faktor Posisi
•Tabung sinar–x harus diatur tegak lurus terhadap film dan objek.
•Bidang objek dan film diatur sejajar.
•Adanya kemiringan dari objek dapat mengakibatkan terjadinya distorsi gambar.

Endoscopic Retrograde Choledocopancreatography (ERCP)

PENGERTIAN
Endoscopic Retrograde Choledocopancreatography (ERCP) adalah pemeriksaan radiografi pada pankreas dan sistem billiary dengan bantuan media kontras positif dan menggunakan peralatan fiber optik endoskopi untuk menegakkan diagnosa.

INDIKASI
•Oral dan intravena cholecystography gagal.
•Jaundice.
•Pancreatic disease.

KONTRA INDIKASI
•Sensitif terhadap media kontras
•Pyloric stenosis menghalangi endoskopi
•Acute pancreatitis
•Glaucoma
•Pseudocyst

PERSIAPAN ALAT
•Pesawat sinar-x dan fluoroskopi
•Fiber optic endoscope : satu bendel glass fibre disatukan dan xenon light illuminator ditengah alat ini ada saluran untuk masuk kateter untuk memasukkan media kontras.
•Kaset dan film
•Apron
•Gonad shield
•Kateter
•Media kontras
•Obat dan peralatan emergensi

PERSIAPAN PASIEN
•Tanyakan apakah pasien hamil atau tidak.
•Tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat asma atau tidak.
•Pasien diminta menginformasikan tentang obat-obatan yang dikonsumsi.
•Pemeriksaan darah lengkap dilakukan 1-2 hari sebelumnya.
•Pasien puasa 5-6 jam sebelum pemeriksaan dimulai.
•Bila diperlukan, pasien dapat diberikan antibiotik.
•Penandatanganan informed consent.
•Plain foto abdomen.
•Premidikasi ameltocaine lozenge 30 mg.
•Media kontras : untuk panceatic duct diberikan angiografin 65% atau sejenisnya dan untuk billiary duct diberikan Conray 280 atau sejenisnya.

TEKNIK RADIOGRAFI
•Pasien miring disisi kiri pada meja pemeriksaan.
•Endoskop dimasukan melalui mulut kedalam oesophagus selanjutnya melewati gaster melalui duodenum.



•Endoskopi diposisikan pada bagian tengah duodenum dan papilla vateri.
•Poly kateter diisi media kontras (berada dipertengahan endoskopi).
•Biasanya pancreatic duct diisi media kontras selanjutnya billiary duct.
•Dibuat spot foto dipandu dengan fluoroscopy.



PERAWATAN POST PROSEDUR
•Pasien dimonitor hingga efek dari obat-obatan hilang.
•Setelah pemeriksaan pasien mungkin akan mengalami perasaan tidak nyaman pada tenggorokan, kembunga dan nausea (udara yang masuk).
•Komplikasi yang mungkin muncul seperti pancreatitis, perforasi, pendarahan ataupun reaksi alergi akibat sedative.
•Informasikan pada pasien untuk melaporkan apabila muncul fever, nyeri yang hebat ataupun pendarahan.

Trnslate by

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Ada kesalahan di dalam gadget ini