02 Februari 2010

Teknik Radiografi Voiding Cystouretrography (VCU)

1. Pengertian
Teknik atau prosedur pemeriksaan menggunakan sinar-x pada vesica urinaria (blass) dan uretra dengan memasukkan media kontras untuk menegakkan diagnosa. Biasanya dilakukan setelah cystography, sehingga disebut juga dengan nama “cystouretrogram” atau voiding cystouretrogram (VCU).

2. Indikasi
• Trauma
• Kencing tidak lancar
• Batu pada uretra

3. Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus, hanya pasien harus mengosongkan bulinya terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter dilakukan. Pasien melepaskan benda-benda logam yang dapat menggangu gambaran.

4. Persiapan Alat dan Bahan
• Media kontras iodium 50 cc
• Aqua steril 100 cc
• Poly cateter 8 atau 10 G
• Spuit 50 cc (spuit kaca 200 cc)
• Needle 19 G
• Pesawat sinar-x
• Kaset dan film 24 x 30
• Kateter dipasang pada gland penis (untuk laki-laki)

5. Prosedur Pemeriksaan
Teknik atau prosedur pemeriksaan sama dengan cystography. Proyeksi AP dan oblique pada saat pasien mixi (voiding) dengan posisi erect jika memungkinkan. Untuk pasien laki-laki, proyeksi yang paling baik adalah RPO 30°. Setelah gambaran voiding cukup, maka proyeksi pemeriksaan AP post void (mixi) mungkin diminta radiolog. Catatan : pemotretan (eksposi) dilakukan saat pasien voiding, kateter dilepaskan sebelum eksposi dilakukan.

6. Proyeksi Voiding Cystouretrography

a. AP
Biasanya dilakukan proyeksi AP saja untuk pasien wanita

Posisi Pasien
Supine /erect

Posisi Obyek
• Kedua tangan lurus di samping tubuh
• Kedua kaki lurus.
• MSP sejajar pertengahan bucky (meja pemeriksaan).

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inchi (5 cm) superior symphisis pubis.

FFD
40 inci (100 cm)
Eksposi : pada saat voiding.



b. Right Posterior Oblique (RPO)
Posisi Pasien
Semisupine

Posisi Obyek
• Obliquekan tubuh 30° ke kanan.
• Superimposisikan uretra dengan tungkai kanan.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inchi superior symphisis pubis dan 2 inchi medial SIAS

FFD
40 inci (100 cm)
Eksposi : pada saat pasien voiding.

Kriteria Gambar
Umum
• Tampak gambaran uretra, vesica urinaria (blass) terisi bahan kontras pada proyeksi AP dan oblique
• Tampak bladder neck terbuka (pada proyeksi pasien mixi).
Khusus
• Wanita : uretra yang berisikan media kontras tampak di posterior symphisis pubis
• Laki-laki : uretra berisikan media kontras dan superimposisi dengan soft tissue tungkai kanan.

Teknik Radiografi Retrograde Cystography (Cystogram)

1. Pengertian
Teknik atau prosedur pemeriksaan urinary bladder (blass) setelah memasukkan media kontras melalui kateter dengan menggunakan sinar-x untuk menegakkan diagnosa.

2. Klinis
• Trauma
• Calculi
• Tumor
• Inflamantory urinary bladder

3. Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus, hanya pasien harus mengosongkan bulinya terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter dilakukan. Pasien melepaskan benda-benda logam yang dapat menggangu gambaran.

4. Persiapan Alat dan Bahan
• Media kontras iodium 50 cc
• Aqua steril 100 cc
• Poly cateter 16 G
• Spuit 50 cc (spuit kaca 200 cc)
• Needle 19 G
• Pesawat sinar-x
• Kaset dan film 24 x 30

5. Teknik pemeriksaan
Bahan kontras dicampur dengan aqua steril dengan perbandingan 1 : 3 atau 1 : 4. Plain foto khusus daerah blass (setelah pasien kencing). Pasang kateter menuju blass melalui uretra. Masukkan kontras yang telah dicampur aqua 150 – 500 cc.

6. Proyeksi Pemeriksaan Cystogram

a. AP Axial
Posisi Pasien
Supine

Posisi Obyek
• Kedua kaki lurus.
• MSP sejajar pertengahan bucky (meja pemeriksaan).

Central Ray
10 - 15° caudal (agar blass tdk superposisi symphisis pubis)

Central Point
2 inchi (5 cm) superior symphisis pubis.

FFD
40 inci (100 cm)
Eksposi : ekspirasi tahan nafas.

Kriteria Gambar
Urinary blader tidak superimposisi dengan symphisis pubis.



b. Oblique Bilateral (kanan dan kiri)
Posisi Pasien
Semisupine

Posisi Obyek
• Rotasikan tubuh 45°- 60°
• Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan,luruskan kaki yang dekat dengan meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan gunakan sebagai ganjalan kepala, yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inchi superior symphisis pubis dan 2 inchi medial SIAS

FFD
40 inci (100 cm)
Eksposi : ekspirasi tahan nafas

Kriteria Gambar
Urinari blader tidak superimposisi dengan bagian kaki yang ditekuk.

Catatan
Digunakan untuk menunjukkan bagian posterolateral blass, khususnya UV junction.



c. Proyeksi Lateral
Proyeksi ini tidak umum dilakukan dan biasanya dilakukan dengan klinis fistel vesicorectal atau vesicouteral.

Posisi Pasien
True lateral (lateral recumbent)

Posisi Obyek
• Kedua tangan digunakan sebagai bantalan kepala.
• Kedua lutut ditekuk, dan letakkan bantal diantara lutut.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inchi superior dan posterior symphisis pubis.

FFD
40 inci (100 cm)
Eksposi : ekspirasi tahan nafas.

Kriteria Gambar
Hip dan femur superimposisi.

Teknik Radiografi Retrograde Pyelography (RPG)

1. Pendahuluan
Pemeriksaan ini dilakukan apabila sistem urinaria sudah tidak berfungsi. Media kontras dimasukkan berbalik atau melawan jalannya alur sistem urinaria melalui sistem pelviocaliceal dengan memasang kateter . Pemasangan kateter adalah dengan melakukan bedah minor oleh dokter urology di ruang bedah. Umumnya dilakukan untuk menunjukkan letak urinary calculi atau jenis kerusakan lain.

2. Pengertian
Teknik atau prosedur atau tata cara pemeriksaan sistem urinaria dengan menggunakan sinar-x dan memasukkan media kontras secara retrograde (berlawanan dengan alur sistem urinaria) untuk menegakkan diagnosa.

3. Indikasi
• Stricture uretra
• Batu uretra
• Uretris injuri
• Renal pelvic neoplasm
• Renal calculi
• Ureteric fistule
• Accidential ureteric ligation

4. Kontra Indikasi
• Urethritis
• Kontra indikasi absolute yang menyebarkan infeksi pada traktus urinaria distal dan proximal.
• Peradangan yang terjadi akan sulit untuk diobati.
• Stricture uretra
• Bukan kontra indikasi absolute.
• Pemasukan kateter dapat memperparah keadaan.

5. Komplikasi
• Injuri Uretra
Penggunaan cystoscopy dengan ukuran besar dan tidak digunakannya lubricant (jelly) akan menyebabkan injuri terjadi.
• Bladder Injuri
Jarang terjadi. Apabila tekanan keras dengan paksaan dilakukan, maka perforasi bladder mungkin terjadi.
• Paraphimosis
Mungkin terjadi pada pasien yang tidaak dicircumsisi
• Stricture Uretra
Tidak digunakannya lubricant yang cukup dapat menyebabkan luka dan stricture kemudian.
• Meatal Stricture
Seperti stricture uretra
• Cystitis
Jika tidak dilakukan aseptic akan terjadi peradangan.

6. Persiapan Pasien
• Tanyakan riwayat alergi terhadap iodium maupun barium.
• Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan saat ini.
• Apabila pasien wanita dalam usia produktif, tanyakan apakah pasien sedang hamil atau tidak.
• Hasil ureum dan creatinin normal
• Satu hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap.
• 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar
• Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan
• Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok, dan banyak bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus.
• Melepaskan benda-benda logam yang dapat mengganggu gambaran pemeriksaan.
• Sebelum pemeriksaan dimulai pasien buang air kecil untuk mengosongkan blass
• Penandatanganan Informed Consent. Venipuncture adalah prosedure invasive yang dapat menyebabkan komplikasi pada saat injeksi media kontras. Petugas harus hati-hati dan selalu memastikan pasien telah diberikan penjelasan dan menandatangani informed consent. Untuk pasien anak-anak harus diberikan penjelasan pada anak dan orang tua anak tersebut.

7. Persiapan Alat dan Bahan
• Pesawat sinar-x
• Media kontras iodium 20 cc
• Spuit 20 cc
• Needle 19 G
• Film dan kaset 24 x 30 dan 30 x 40
• Grid atau bucky
• Marker R/L
• Kateter (dipasang dengan bantuan cystoscopy)
• Desinfektan

8. Prosedur Pemeriksaan
Pemasangan kateter dilakukan oleh dokter urology dengan menggunakan bantuan cystoscopy, secara retrograde (berlawan dengan alur sistem urinary) melalui uretra sebelum pemeriksaan mulai dilakukan.
• Lakukan plain foto (abdomen polos)
• Untuk memastikan letak kateter (untuk dokter urologis)
• Mengetahui ketepatan teknik dan posistioning.
• Lakukan injeksi 3-5 cc media kontras melalui kateter menuju renal pelvis pada ginjal yang diperiksa.
• Diambil dengan menggunakan film 24 x 30
• Kontras dimasukkan kembali ± 5 cc sambil kateter ditarik perlahan, lalu foto menggunakan film 30 x 40 untuk melihat daerah ureter.
• Kontras dimasukkan sampai habis, sambil ditarik diperkirakan kontras habis dan keteter dilepas. Foto diambil dengan menggunakan fim 30 x 40.

7. Proyeksi Retrograde Pyelography

a. AP
Posisi Pasien
Supine

Posisi Obyek
• MSP sejajar dengan pertengahan bucky.
• Kedua tangan di samping tubuh.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
MSP setinggi crista iliaca

FFD
40 inci (100 cm)

Catatan
Gambar harus berada pada orientasi ginjal tidak terpotong dan gambaran mulai dari nefron sampai blass tetapi tidak ada waktu seperti IVP.

b. AP Oblique

Posisi Pasien
Semisupine

Posisi Obyek
• Atur tubuh pasien sehingga membentuk sudut 450 terhadap meja pemeriksaan.
• Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan, luruskan kaki yang dekat dengan meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan gunakan sebagai ganjalan kepala, yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inci (5 cm) medial dari SIAS dan 1½ inci (3,8 cm) di atas crista illiaca

FFD
40 inci (100 cm)

Teknik Radiografi Antegrade Pyelography (APG)

1. Pengertian
Teknik atau prosedur pemeriksaan sinar-X sistem urinaria dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan melalui kateter yang telah dipasang dokter urologi dengan cara nefrostomi percutan.

2. Tujuan
• Memperlihatkan anatomi dan lesi-lesi tractus urinarius bagian proximal.
• Dilakukan setelah IVP gagal menghasilkan suatu diagnosa yang informatif/kurang akurat/metode RPG tidak memungkinkan.
• Untuk menunjukkan terutama gambaran renal pelvic dan ureter.
• Menujukkan obstruksi ureter akibat batu.

3. Indikasi
• Nephrolitiasis
• Urethrolitiasis
• Nephritis
• Pyelonephritis
• Trauma akut tractus urinarius
• Hydroneprosis

4. Persiapan Pemeriksaan
• Tanyakan riwayat alergi terhadap iodium maupun barium.
• Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan saat ini.
• Apabila pasien wanita dalam usia produktif, tanyakan apakah pasien sedang hamil atau tidak.
• Hasil ureum dan creatinin normal
• Satu hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap.
• 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar
• Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan
• Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok, dan banyak bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus.
• Melepaskan benda-benda logam yang dapat mengganggu gambaran pemeriksaan.
• Sebelum pemeriksaan dimulai pasien buang air kecil untuk mengosongkan blass
• Penandatanganan Informed Consent. Venipuncture adalah prosedure invasive yang dapat menyebabkan komplikasi pada saat injeksi media kontras. Petugas harus hati-hati dan selalu memastikan pasien telah diberikan penjelasan dan menandatangani informed consent. Untuk pasien anak-anak harus diberikan penjelasan pada anak dan orang tua anak tersebut.

5. Persiapan Alat dan Bahan
• Media kontras iodium 50 cc, cairan NaCl 100 cc
• Spuit dissposible 50 cc
• Needle 19 G
• Handscoen
• Clamp
• Plester
• Alkohol dan betadine
• Haas
• Pesawat sinar-x, kaset dan film 24 x 30 dan 30 x 40

6. Prosedur Pemeriksaan
• Kateter yang telah terpasang diklem kemudian selang yang terhubung dengan urine dicabut
• Kontras medis disiapkan dengan mencampur media kontras dan NaCl dengan perbandingan 1 : 3
• Sebelum pemasukan media kontras dilakukan, lakukan plain foto dengan kaset 30 x 40 orientasi ginjal
• Masukkan media kontras yang sudah diencerkan melalui kateter yang langsung terhubung dengan pelviocalyces .
• Terdapat 3 seri pemotretan dengan menggunakan film 30 x 40
1. Foto 1 fokus pada renogram dan pelviocalyceal system
2. Foto 2 fokus pada ureter bagian proximal dan pelviocalyceal system
3. Foto 3 fokus pada ureter distal dan vesika urinaria.
4. Foto terakhir dibuat untuk melihat sekresi ginjal
7. Proyeksi Antegrade Pyelography

a. AP
Posisi Pasien
Supine

Posisi Obyek
• MSP sejajar dengan pertengahan bucky.
• Kedua tangan di samping tubuh.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
MSP setinggi crista iliaca

FFD
40 inci (100 cm)

Catatan
Gambar harus berada pada orientasi ginjal tidak terpotong dan gambaran mulai dari nefron sampai blass tetapi tidak ada waktu seperti IVP.

b. AP Oblique

Posisi Pasien
Semisupine

Posisi Obyek
• Atur tubuh pasien sehingga membentuk sudut 450 terhadap meja pemeriksaan.
• Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan, luruskan kaki yang dekat dengan meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan gunakan sebagai ganjalan kepala, yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.

Central Ray
Tegak lurus IR

Central Point
2 inci (5 cm) medial dari SIAS dan 1½ inci (3,8 cm) di atas crista illiaca

FFD
40 inci (100 cm

01 Februari 2010

Radioanatomi Sistem Pernapasan

1.1 Pengertian Sistem Pernapasan
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 (oksigen) ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandug CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan udara disebut inspirasi dan menghembuskan napas disebut ekspirasi.
1.2 Organ Sistem Pernapasan
1.2.1 Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung.
1. Bagian luar dinding terdiri dari kulit.
2. Lapisan tengah dari otot-otot dan tulang rawan.
3. Lapisan dalam terdiri dari selaput lender yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung.
Adapun konka nasalis yang berjumlah tiga buah yaitu :
a) Konka nasalis inferior (karang hidung bagian bawah)
b) Konka nasalis media (karang hidung bagian tengah)
c) Konka nasalis superior (karang hidung bagian atas)
Diantara konka-konka ini terdapat tiga buah lekukan yaitu meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah), dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus- meatus inilah yang dilewati udara pernapasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, ke atas rongga hidung yang berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang bayi, dan sinus etmoidalis pada rongga tulang tapis.
Pada sinus etmoidalis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat pada bagian atas.
Pada hidung bagian mukosa terdapat serabut-serabut saraf atau reseptor-seseptor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius.
Di sebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakrimalis.



1.2.2 Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di baawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.
Hubungan faring dengan organ-organ lain yaitu ke atas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring dan ke belakang lubang oesofagus.
Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Di sebelahnya terdapat dua buah tonsil kiri dan kanan dari faring. Di sebelah belakang terdapat epiglotis (empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan.
Rongga faring dibagi ke dalam tiga bagian :
1. Bagian sebelah atas sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
2. Bagian sebelah tengah sama tingginya dengan istmus fausium isebut orofaring.
3. Bagian bawah sekali dinamakan laringo faring.



1.2.3 Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukkan suara yang terletak di depan faring sampai ketinggian vertebrae servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Pangkal tenggorakan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglottis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutup laring.
Laring terdiri dari lima tulang rawan yaitu :
1. Kartilago thyroid berjumlah satu buah. Letak di depan jakun (Adam’s aple) sangat jelas terlihat pada laki-laki.
2. Kartilago ariteanoid berjumlah dua buah yang berbentuk beker.
3. Kartilago krikoid berjumlah satu buah yang berbentuk cincin.
4. Kartilago epiglotis berjumlah satu buah.
Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epithelium berlapis. Pita suara ini berjumlah dua buah. Di bagian atas adalah pita suara palsu dan tidak mengeluarkan suara yang disebut ventrikularis. Di bagian bawah adalah pita suara sejati yang membentuk suara yang disebut vokalis, terdapat dua buah otot. Oleh gerakan dua buah otot ini maka pita suara dapat bergetar dengan demikian pita suara (rima glotidis) dapat melebar dan mengecil, sehingga di sinilah terbentuk suara.



1.2.4 Trakea
Merupakan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak ke arah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kanan dan kiri disebut karina.



1.2.5 Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea yang berjumlah dua buah. Terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan ke V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping kearah tampuk paru-paru.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri. Terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai tiga cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai dua cabang. Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkiolus). Pada bronkioli tak terdapat cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru/gelembung hawa atau alveoli.



1.2.6 Paru-Paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (gelembung hawa=alveoli). Gelembung-gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2. Pada lapisan ini terjadii pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (Paru-paru kanan dan kiri).
1.2.6.1 Pembagian Paru-Paru
Paru-paru dibagi menjadi dua yaitu :
1. Paru-paru kanan
Terdiri dari tiga lobus (belah paru), Lobus Pulmo Dekstra Superior, Lobus Media, dan Lobus Inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobulus.
2. Paru-paru kiri
Terdiri dari pulmo sinester lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan-belahan yang lebih kecil bernama segment. Paru-paru kiri mempunyai sepuluh segment yaitu lima segment pada lobus superior dan lima segment pada lobus inferior.
Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus. Diantara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat bronkiolus
Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2-0,3 mm.
1.2.6.2 Letak Paru-Paru
Pada rongga dada di antaranya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura menjadi dua yaitu :
1) Pleura visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru.
2) Pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah dalam.
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyaki permukaanya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana sewaktu napas bergerak.

1.2.6.3 Pembuluh Darah pada Paru
Sirkulasi pulmonar berasal dari ventrikel kanan yang tebal dindingnya dari tebal ventrikel kiri. Perbedaan ini menyebabkan kekuatan kontraksi dan tekanan yang ditimbulkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi ventrikel kiri.
Selain aliran melalui arteri pulmonal ada darah yang langsung mengalir ke paru-paru dari aorta melalui arteri bronkialis. Darah ini adalah darah “kaya oksigen” (oxygenated) dibandingkan dengan darah pulmonal yang relatif kekurangan oksigen. Darah ini kembali melalui vena pulmonalis ke atrium kiri. Arteri pulmonalis membawa darah yang yang sudah tidak mengandung udara dari ventrikel kanan ke paru-paru. Cabang-cabangnya menyentuh saluran-saluran bronchial, sampai ke alveoli halus.
Alveoli itu membelah dan membentuk jaringan kapiler dan jaringan kapiler itu menyentuh dinding alveoli (gelembung udara). Jadi darah dan udara hanya dipisahkan oleh dinding kapiler. Dari epitel alveoli, akhirnya kapiler menjadi satu sampai menjadi vena pulmonalis dan sejajar dengan cabang tenggorokan yang keluar melalui tampuk paru-paru ke serambi jantung kiri (darah mengandung O2), sisa dari vena pulmonalis ditentukan dari setiap paru-paru oleh vena bronkialis dan ada yang mencapai vena kava inferior, maka dengan demikian paru-paru mempunyai persediaan darah ganda.

Trnslate by

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google